ANALISIS
QUALITY OF SERVICE (QOS) PADA JARINGAN BERBASI WHOLE HOME MASH DENGAN SAMBUNGAN
WIFI
M. Radhian Khalifattaqi
Universitas Mercubuana Yogyakarta, Indonesia
Email:
[email protected]
Abstrak
Advances in network technology are increasingly developing. Due to the
human need for fast, easy and comfortable access to technology. So there is competition between network device manufacturers
to innovate in creating new, compact technology, especially after the emergence
of AI technology which has been trying to be embedded in various devices
recently. Mash technology is nothing new in the networking world. However,
problems that often occur with Mesh devices include complicated installation
and requiring different types of devices and sometimes with different brands
there is quite noticeable latency. Whole Home Mash (WHM) is a technology made
by TP-LINK which is embedded in DECO series devices which have various
contemporary features such as WiFi 6, OFDMA and
MU-MIMO which can facilitate device connections in accessing the internet. What
is focused on in this research is the WiFi or
wireless-based Mesh feature which makes this device very easy to install and
the settings are supported by an App that can be accessed from the user's
cellphone. Based on the Quality of Service (QoS) assessment criteria which
consist of: Throughput, Delay, Jitter and Packet Loss, each of which gets a
score of 4 in the index which means it is in the very good category. The results
show that in 4 times with different conditions and distances it met criteria 4
(very good) in Throughput, Delay, Jitter but experienced a decrease in Packet
Loss with the "moderate" criteria for data sizes above 400 MB. In
short, this device meets index 4 of the four criteria above and can be a
reference in modeling a WiFi-based network in the
future.
Keywords:
Delay; Netwok; Mesh; Wifi.
INTRODUCTION
Perkembangan� teknologi informasi sangat cepat, dan telah menjadi kebutuhan
primer dalam berbagai sendi
kehidupan Masyarakat (Ridwan, Solehudin, & Rozikin, 2024), Kemajuan teknologi
informasi juga memberikan dampak yang besar terhadap budaya masyarakat dalam beraktivitas (Yanuar Herlambang, S.Sn., 2014), sehingga sarana
dan prassarana harus dapat mendukung sistem menunjang kegiatan berbasis digital. Oleh karena itu
diperlukan jaringan
internet yang cepat untuk mengakomodir
seluruh kebutuhan tersebut. Jaringan internet memainkan peran krusial dalam komunikasi digital,
sehingga memungkinkan mengakses informasi yang cepat dan efisien (Plan-do-check-act, Wirawan, Lubis,
Yunan, & Septo, 2024), termasuk dalam memenuhi
mengembangakan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi (Yanuar Herlambang, S.Sn., 2014). Pengelolaan jaringan
komputer yang semakin kompleks membawa tantangan tersendiri. Salah satu masalah umum
terjadi adalah gangguan konektivitas disebabkan arus lalu lintas jaringan
yang berlebihan, gangguan semacam ini bisa menyebabkan penundaan dan kehilangan paket data, yang berdampak pada menurunnya kinerja jaringan, dan akhirnya dapat mempengaruhi produktivitas.
Selain itu, kerusakan perangkat
jaringan seperti hub,
bridge, router, server, dan fasilitas transmisi juga menjadi masalah yang sering dihadapi dalam jaringan (Plan-do-check-act et al., 2024).
Whole Home Mash
(WHM) adalah salah satu
sistem yang dikembangkan
TP-Link� sejenis Mesh yang dibangun
untuk menghilangkan dead zone atau
wilayah yang tidak mendapatkan
sinyal WiFi, sehingga seluruh wilayah rumah terhindar dari� gangguan sinyal karena tembok atau
sekat-sekat di suatu bangunan atau rumah.
Mesh diperuntukan bagi masyarakat yang memiliki tempat tinggal dengan jangkauan WiFi lemah dan menginginkan sistem untuk meningkatkan sinyal serta cakupan WiFi.
Salah satu yang diunggulkan
adalah kemudahan instalasi kerena antar perangkat jaringan dengan WiFi (tanpa kabel)
(Dahuri, 2023).
Berdasarkan uraian di atas maka perlu diketahui bagaimana cara mengukur dan melihat kualitas layanan jaringan internet pada perangkat tersebut dengan mengukur parameter Throughput,
Delay, Packet Loss dan Jitter (Ridwan et al., 2024). Adapun tujuan dari
penelitian ini yaitu, menganalisa jaringan internet menggunakan teknologi
Whole Home Mesh (WHM) dengan menggunakan parameter
QoS (Quality of Service), untuk menghasilkan informasi berupa analisis jaringan internet yang
sesuai dengan standar QoS
dan untuk mengetahui faktor
� faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas jaringan internet
menggunakan perangkat tersebut.
Sehingga pembaca mendapatkan terbantu jika ingin menggunakan perangkat tersebut.
Penelitian sebelumnya pernah dilakuan Abdullah Azizi Akbar yang berjudul
�Perbandingan Kinerja Wifi
Mesh Dan Access Point Sebagai Home Solution
Menggunakan Metode Quality Of Service (QoS)�,
menggunakan ruter Ruijie
RG-EW1200G yang dihubungkan dengan
kabel yang hasilnya: Throughput
yang dihasilkan oleh WiFi
Mesh mengalam penurunan mulai 10% dan untuk Throughput download 5%. Sedangkan untuk perangkat Mesh pertma� ke mesh2
dan� mesh 3 mengalami
penurunan sebesar 1% (Akbar & Prapanca, 2024).
Jaringan Komputer merupakan gabungan dua atau lebih komputer atau perangkat yang terhubung satu sama lainnya untuk saling bertukar komunikasi dalam bentuk informasi atau data (Putra, Adnyana, & Jasa, 2021), mempergunakan protokol
komunikasi dengan media komunikasi berupa kabel maupun nirkabel
(wireless) yang beragam masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, baik dari segi transmisi,
pemasangan dan harga yang mejadi pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam sebuah jaringan komoputer yang tersambung ke internet(Suharjo, 2009).
RESEARCH METHOD
Metode penelitian yang digunakan
pada penelitian ini adalah metode observasi.
Metode observasi digunakan
untuk pengumpulan data yang digunakan
dengan jalan mengadakan pengamatan dan pencatatan terhadap keadaan atau perilaku
objek sasaran. Tujuan penelitian observasi adalah untuk mengumpulkan data sederhana serta menerangkan atau menjelaskan suatu fenomena (Dr. Umar Sidiq,
M.Ag Dr. Moh. Miftachul Choiri, 2019).
Dalam penelitian ini,
alat yang digunakan adalah TP-LINK Deco X10 AX1500 yang telah dilengkapi dengan Whole Home Mesh dan telah menggunan koneksi = Wi-Fi 6 dengan speeds up to 1,500 Mb1,201 Mb pada 5 GHz dan 300 Mb
pada 2.4 GHz yang memadai untuk memenuhi
kebutuhan dalam melakukan pengujian (testing).
Study Litelatur
Study literatur
merupan proses mencari referensi dan literatur terkait yang Setelah permasalahan ditemukan, untuk
bisa menjadi bahan acuan penelitian, baik secara teori
maupun pemilihan metode terbaik untuk mengambil data dari kedua perangkat tersebut. Literatur ini nantinya juga menjadi pertimbangan penulis
dalam menyimpulkan hasil akhir
dari penelitian ini.
Pengumpulan
Data
Pengumpulan
data merupakan proses perekaman
menggunakan aplikasi iperf3 yang bertujuan
untuk menganbil data lalu lintas jaringan ketika dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dilihat berapa data maksimal yang digunakan,
berapa lama, seberapa cepat
maksimal data itu sampai ke user.
Penghitungan
QoS
Merupan
proses penghitungan dari
data yang telah dikumpulkan
pada proses sebelumnya sehingga
menghasilkan data akhir
yang dibutuhkan dalam metode
QoS. Data yang dibutuhkan yaitu : Packet Loss, Throughput,
Delay dan Jitter.
Aninalisa
Hasil QoS
Setelah
data diperoleh kemudian dianalisa dan diklasifikasikan berdasarkan 4 kriteria berikut :
Kesimpulan
Kesimpulan adalah
penilaian hasil dari pengambilan data serta pengolahanya yang menunjukan kualiatas dari penelitian ini yang akan digunakan sebagai acuan untuk meyimpulkan apakah sistem Whole Home Mesh yang antar
perangkat meshnya dihubungkan dengan WiFi mampu menembus
halangan tembok dengan baik atau
terpengaruhi dari segi kualitas lalu
lintas jaringanya.
Pengujian Jarak

Gambar 1 Topologi Jaringan
Pengujian Jarak

Gambar 1 Pengujian dengan
Iperf3
![]()
Pada Gambar. 2. proses pengujian jarak dimulai dengan menempatkan 2 perangkat dalam jarak 5m, 10m, dan 13m tanpa penghalang, kemudian di lihat kemampuan jaringannya dengan Iperf3 yang menunjukan maksimal data yang mampu
ditangani oleh jaringan atau topologi tersebut
seperti pada Gambar. 3.
Pada Tabel 1 menunjukan hasil dari pengujian jaringan pada jarak 5 m,
menggunakan perangkat Deco x10 pada pengujian ke 1, besar Throughput� 332 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,009 dan Packet Loss 15%,
pada pengujian ke 2, besar Throughput� 338 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,005 dan Packet Loss 13%,
pada pengujian ke 3, besar Throughput� 345 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,005 dan Packet Loss 11%,
pada pengujian ke 4, besar Throughput� 342 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,006 dan Packet Loss 12%,
pada pengujian ke 5, besar
Throughput� 334 Mb dengan Delay 5 ms, Jitter
0,007 dan Packet Loss 11%, dengan
rata-rata� Throughput� 340 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,006 dan Packet Loss 12%.
Pada Tabel VI menunjukan
hasil dari pengujian jaringan pada jarak 10 m,
menggunakan perangkat Deco x10 pada pengujian ke 1, besar Throughput� 302 Mb dengan Delay
4 ms, Jitter 0,006 dan Packet Loss 18%,
pada pengujian ke 2, besar Throughput� 314 Mb dengan Delay
4 ms, Jitter 0,008 dan Packet Loss 13%,
pada pengujian ke 3, besar Throughput� 331 Mb dengan Delay
3 ms, Jitter 0,004 dan Packet Loss 15%,
pada pengujian ke 4, besar Throughput� 341 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,006 dan Packet Loss 14%.
Pada pengujian ke 5, besar Throughput� 338
Mb dengan Delay 5 ms,
Jitter 0,0012 dan Packet Loss 13%, dengan
rata-rata� Throughput� 325 Mb dengan Delay
4 ms, Jitter 0,008 dan Packet Loss 14%.

Pada Tabel VII menunjukan hasil dari pengujian jaringan pada jarak 15 m,
menggunakan perangkat Deco x10 pada pengujian ke 1, besar Throughput� 279 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,033 dan Packet Loss
2,1%, pada pengujian ke 2, besar
Throughput� 277 Mb dengan Delay 4 ms, Jitter
0,025 dan Packet Loss 2,3%, pada pengujian ke
3, besar Throughput� 279 Mb dengan Delay
4 ms, Jitter 0,020 dan Packet Loss
2,2%, pada pengujian ke 4, besar
Throughput� 280 Mb dengan Delay 5 ms, Jitter
0,051 dan Packet Loss 1,8%. Pada pengujian ke
5, besar Throughput 281 Mb dengan
Delay 5 ms, Jitter 0,0034 dan Packet
Loss 2,2%, dengan rata-rata Throughput 279
Mb dengan Delay 5 ms,
Jitter 0,036 dan Packet Loss 2,1%.
Pengujian Menembus sekat atau tembok

Gambar.
2.� Topologi
Pengujian dengan Jarak 6 m
dan 1 Sekat

Pada Gambar. 4. Pengujian ini terdapat
2 alat yang diletakan diruangan yang berbeda dengan jarak 6
meter dengan 1 sekat
dan pengujian menggunakan aplikasi
Iperf3. Dengan hasil pengujian
pada Tabel VIII berikut.
Pada Tabel 4 menunjukan hasil dari pengujian jaringan pada 6 meter dengan 1 sekat, menggunakan perangkat Deco x10 pada pengujian
ke 1, besar Throughput� 287 Mb dengan Delay
6 ms, Jitter 0,023 dan Packet Loss
2,6%, pada pengujian ke 2, besar
Throughput� 277 Mb dengan Delay 5 ms, Jitter
0,013 dan Packet Loss 4,4%, pada pengujian ke
3, besar Throughput� 281 Mb dengan Delay
6 ms, Jitter 0,023 dan Packet Loss
2,3%, pada pengujian ke 4, besar
Throughput� 280 Mb dengan Delay 3 ms, Jitter
0,008 dan Packet Loss 2,7%. Pada pengujian ke
5, besar Throughput� 278 Mb dengan
Delay 7 ms, Jitter 0,0031 dan Packet
Loss 2,8%, dengan rata-rata� Throughput� 280 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,019 dan Packet Loss
2,8%.

Gambar. 3.�
Topologi Pengujian dengan Jarak 10 m dan 2 Sekat
Pada Gambar. 3. Pengujian ini
terdapat 2 alat yang diletakan diruangan yang berbeda dengan jarak 10 meter dengan
2 sekat dan pengujian
menggunakan aplikasi Iperf3. Dengan
hasil pengujian pada Tabel IX berikut.

Pada Tabel 5 menunjukan hasil dari pengujian jaringan pada 6 meter dengan 1 sekat, menggunakan perangkat Deco
x10 pada pengujian ke 1, besar
Throughput� 186 Mb dengan Delay 11 ms, Jitter
0,273 dan Packet Loss 34%, pada pengujian ke
2, besar Throughput� 185 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,054 dan Packet Loss 35%,
pada pengujian ke 3, besar Throughput� 183 Mb dengan Delay
6 ms, Jitter 0,077 dan Packet Loss 31%,
pada pengujian ke 4, besar Throughput� 187 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,043 dan Packet Loss 31%.
Pada pengujian ke 5, besar Throughput
191 Mb dengan Delay 4 ms,
Jitter 0,0037 dan Packet Loss 34%, dengan
rata-rata Throughput 186 Mb dengan Delay
5 ms, Jitter 0,089 dan Packet Loss 34%.
Penghitungan dan Analisa QoS Pengujian
Jarak
Bedasarkan hasil pemantau pada
Iperf3 seperti yang tampak
pada Gambar. 3, sehingga dapat
diperoleh nilai Troughput, Delay, Jitter, dan Packet Lossnya.

Pada Tabel X dan XI menunjukan rata-rata hasil dari pengujian
jaringan pada jarak 5 m, 10
m, dan 15 m menggunakan perangkat Deco x10 pada jarak 5 meter memiliki nilai Throughput 340 Mb dengan
Delay 5ms dan Jitter 0,006 ms dengan predikat �Sangat Bagus� namun pada Packet Loss 12% dengan
predikat �Bagus�. Pada jarak
10 meter memiliki nilai Throughput 325 Mb dengan
Delay 4 ms dan Jitter 0,008 dengan predikat �Sangat Bagus� namun pada Packet Loss 14% dengan
predikat �Bagus�. Pada jarak 15 meter memiliki nilai Throughput 279 Mb dengan
Delay 5 ms dan Jitter 0,033 ms serta Packet Loss 2,1% dengan predikat �Sangat Baik�.

Penghitungan QoS dan Analisa Pengujian
Menembus Sekat atau Tembok
Pada Tabel 8 dan 9 menunjukan hasil dari pengujian jaringan menggunakan perangkat
Deco x10 pada jarak 6 meter dengan melewati 1 sekat atau tembok
memiliki nilai Throughput
280 Mb dengan Delay 5 ms
dan Jitter 0,019 ms dan Packet Loss 14%
dengan predikat �Sangat
Baik�. pada jarak 10 meter dengan melewati 2 buah sekat atau
tembok (1 ruangan) memiliki nilai Throughput
186 Mb dengan Delay 5 ms
dan Jitter 0,089 ms dengan
predikat �Sangat Baik� namun
pada Packet Loss 34% dengan predikat �Jelek�.
CONCLUSION
Berdasarkan hasil penelitian diatas maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil pengukuran dengan variable jarak 5 meter mendapatkan total Throghput sebesar 340 Mb, jarak 10 meter mengalami penurunan sebesar 4% dengan mendapatkan total Throghput. Sebesar 325 Mb dan jarak 15 meter mengalami
penurunan 14% dengan mendapatkan total Throghput. Sebesar 279 Mb. Dan untuk Packet Loss, jarak
5 meter mendapatkan 12%, jarak 10 meter sebesar 14% meter,
jarak 15 sebesar 2,1% menunjukan barwa Packet Loss stabil pada Thorghput dibawah 300 Mb.
2. Hasil pengukuran dengan variable jarak 6 meter dengan 1 sekat atau tembok� mendapatkan
total Throghput sebesar 280
Mb sedangkan� jarak 10 meter� dengan 2 sekat mendapatkan total Throghput. Sebesar 280 Mb dan jarak 15 meter mengalami penurunan 34% dengan mendapatkan total Throghput. Sebesar 186 Mb. Dan untuk Packet Loss, jarak
6 meter dengan 1 sekat mendapatkan 2,8%, jarak 10 meter sebesar 34%, menunjukuan kualitas buruk ketika melewati
2 sekat atau tembok.
REFERENCES
[1]��������� M. H.
Ridwan, A. Solehudin, and C. Rozikin, �Analisis Quality of Service ( Qos )
Jaringan Wireless Dengan Penerapan Pcq ( Studi Kasus : Kantor Kecamatan
Kemang ),� vol. 8, no. 3, pp. 3293�3309, 2024.
[2]��������� Yanuar
Herlambang, S.Sn., �Participatory Culture Dalam Komunitas Online Sebagai
Reperesentasi Kebutuhan Manusia,� Tematik, vol. 1, no. 2, pp. 26�34,
2014, doi: 10.38204/tematik.v1i2.45.
[3]��������� D.
Plan-do-check-act, M. N. Wirawan, M. Lubis, U. Yunan, and K. Septo, �Penilaian
manajemen kesalahan jaringan pada pt xyz dengan,� vol. 9, no. 2, pp. 507�517,
2024.
[4]��������� D. Dahuri,
�Teknologi Whole Home Mesh Wifi Jawab Kebutuhan Kreator Konten,�
mediaindonesia. Accessed: Jun. 28, 2024. [Online]. Available:
https://mediaindonesia.com/teknologi/558764/teknologi-whole-home-mesh-wifi-jawab-kebutuhan-kreator-konten
[5]��������� A. A. Akbar
and A. Prapanca, �Perbandingan Kinerja Wifi Mesh Dan Access Point Sebagai Home
Solution Menggunakan Metode Quality Of Service (QoS),� J. Informatics
Comput. Sci., vol. 05, pp. 432�439, 2024.
[6]��������� I. B. A. E.
M. Putra, M. S. I. D. Adnyana, and L. Jasa, �Analisis Quality of Service Pada
Jaringan Komputer,� Maj. Ilm. Teknol. Elektro, vol. 20, no. 1, p. 95,
2021, doi: 10.24843/mite.2021.v20i01.p11.
[7]��������� I. Suharjo,
�Analisis Penggunaan Jaringan Kabel Listrik,� Telkomnika, vol. 7, pp.
31�36, 2009.
[8]��������� R.
Wulandari, �ANALISIS QoS (QUALITY OF SERVICE) PADA JARINGAN INTERNET (STUDI
KASUS : UPT LOKA UJI TEKNIK PENAMBANGAN JAMPANG KULON � LIPI),� J.
Tek. Inform. dan Sist. Inf., vol. 2, no. 2, pp. 162�172, 2016, doi:
10.28932/jutisi.v2i2.454.
[9]��������� ETSI,
�Telecommunications and Internet Protocol Harmonization Over Networks (TIPHON);
General aspects of Quality of Service (QoS),� Etsi Tr 101 329 V2.1.1,
vol. 1, pp. 1�37, 2020.
[10]������� B. Herdiana
and F. P. A. Samosir, �Analisis Quality of Service Jaringan Ad-Hoc Mobile pada
Sistem Telemedis Berbasis Simulasi Network Simulator 3,� Telekontran� J. Ilm. Telekomun. Kendali dan Elektron.
Terap., vol. 10, no. 1, pp. 1�8, 2022, doi:
10.34010/telekontran.v10i1.4717.
[11]������� N. X.
Bobanto, William S. , Lumenta, Aries S. M., �Analisis Kualitas Layanan Jaringan
Internet (Studi Kasus PT. Kawanua Internetindo Manado),� e-journal Tek.
Elektro dan Komput. (2014), ISSN 2301-8402, vol. 4, no. 1, p. 80, 2014.
[12]������� M. Dr. Umar Sidiq, M.Ag Dr. Moh. Miftachul Choiri, Metode
Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan, vol. 53, no. 9. 2019. [Online].
Available: http://repository.iainponorogo.ac.id/484/1/METODE PENELITIAN
KUALITATIF DI BIDANG PENDIDIKAN.pdf
|
Copyright holder: M. Radhian Khalifattaqi (2024) |
|
First publication right: |
|
This article is licensed under: |